Menjembatani Kampus dan Industri: Cerita di Balik Monev Magang KPI UIN Sunan Kalijaga di Media Nasional
Jakarta - Tiga hari, delapan ruang redaksi, dan puluhan cerita pembelajaran. Begitulah potret kegiatan monitoring dan evaluasi (monev) program magang konversi mahasiswa Program Studi KPI UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang berlangsung pada 15-17 April 2026 di Jakarta.
Bagi sebagian mahasiswa, magang bukan sekadar memenuhi kewajiban akademik. Ia menjadi ruang uji: sejauh mana teori yang dipelajari di kelas mampu bertahan ketika berhadapan langsung dengan ritme industri media yang serba cepat, dinamis, dan penuh tekanan.
Tim dosen yang hadir dalam kegiatan ini terdiri dari Irawan, Nitra, Nanang Mizwar dan Seiren Ikhtiara. Mereka menyambangi sejumlah media nasional, mulai dari NU Online, JawaPos, Tempo, Liputan6.com, detik.com, Metro TV, Republika, hingga RTV.
Sebanyak 32 mahasiswa terlibat dalam program magang ini. Mereka tersebar di berbagai lini redaksi: 4 mahasiswa di NU Online, 7 di Jawa Pos, 7 di Tempo, 5 di Liputan6.com, 3 di detik.com, 3 di Metro TV, 1 di Republika, dan 2 di RTV.
Di JawaPos, misalnya, mahasiswa dihadapkan pada realitas produksi konten yang berorientasi pada kecepatan sekaligus ketepatan. Adaptasi terhadap target audiens, terutama generasi Z, menjadi tantangan tersendiri. Kreativitas dalam menentukan angle berita tidak lagi sekadar pilihan, tetapi kebutuhan.
Sementara di Tempo, mahasiswa mulai memahami bahwa produksi konten tidak berhenti pada liputan. Ada proses panjang di baliknya: dari pengambilan gambar, penulisan naskah, hingga tahap editing dan penayangan. Di sinilah ketelitian teknis dan kedisiplinan kerja diuji.
Berbeda lagi dengan pengalaman di detik.com dan Liputan6.com, di mana mahasiswa dituntut untuk berpikir cepat dalam memproduksi konten digital. Artikel harus tayang tepat waktu, namun tetap akurat. Di sisi lain, keinginan mahasiswa untuk lebih banyak turun ke lapangan menunjukkan bahwa pengalaman jurnalistik tidak cukup hanya di balik layar.
Di Metro TV dan RTV, dinamika terasa berbeda. Produksi siaran menuntut kerja tim yang solid, kesiapan mental, serta kemampuan teknis yang presisi. Mahasiswa belajar bahwa satu kesalahan kecil dalam produksi dapat berdampak besar pada hasil akhir tayangan.
Sementara itu, di NU Online dan Republika, mahasiswa didorong untuk lebih peka terhadap isu dan mampu mengemasnya dalam perspektif yang kontekstual dan bernilai.
Dari rangkaian monev ini, satu benang merah terlihat jelas: mahasiswa KPI memiliki daya adaptasi yang baik, namun masih memerlukan penguatan pada beberapa aspek mendasar. Di antaranya adalah keterampilan teknis produksi, kemampuan penulisan jurnalistik, serta keberanian dalam menggali dan mengembangkan isu.
Sekretaris Prodi KPI, Nitra, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar evaluasi, tetapi juga refleksi bersama. “Kita ingin memastikan bahwa apa yang dipelajari di kampus benar-benar relevan dengan kebutuhan industri. Masukan dari media menjadi dasar penting untuk penguatan kurikulum ke depan,” ujarnya.
Di sisi lain, pihak industri juga menunjukkan keterbukaan terhadap kolaborasi. Beberapa media bahkan merespons positif rencana kerja sama lanjutanyang diharapkan dapat memperkuat hubungan antara dunia akademik dan industri media.
Lebih dari sekadar agenda rutin, perjalanan ini menjadi pengingat bahwa dunia jurnalistik terus bergerak. Teknologi berkembang, pola konsumsi media berubah, dan tuntutan profesionalitas semakin tinggi. Di tengah perubahan itu, satu hal tetap menjadi kunci: kemauan untuk terus belajar. Dan bagi 32 mahasiswa yang sedang menapaki proses ini, ruang redaksi bukan lagi sekadar tempat magang. Ia adalah ruang tumbuh, tempat teori diuji, kesalahan diperbaiki, dan profesionalitas mulai dibentuk.