Ketika Kamera Menjadi Suara: Napas Tanah Karisma dan Advokasi Lewat Film Dokumenter

Film dokumenter kerap dipandang sebagai media untuk merekam realitas. Namun bagi mahasiswa Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, dokumenter juga dapat menjadi sarana untuk menyampaikan suara-suara yang selama ini jarang mendapat ruang di hadapan publik.

Gagasan tersebut melatarbelakangi lahirnyaNapas Tanah Karisma, film dokumenter yang diproduksi oleh Kelompok Kinanti sebagai bagian dari tugas akhir semester. Film berdurasi sekitar 10 menit itu mengangkat perjuangan Kelompok Karisma di Kalibawang, Kulon Progo, dalam mengembangkan pertanian organik dan menjaga kesuburan tanah.

Sutradara film,Imtiyaz Allam Nashr,menjelaskan bahwa proses produksi diawali dari keinginan untuk mengangkat persoalan yang dihadapi masyarakat desa. Timnya sempat merancang cerita yang lebih luas mengenai persoalan pertanian. Namun setelah melalui serangkaian observasi dan diskusi dengan warga, mereka memutuskan untuk memfokuskan cerita pada pengalaman anggota Karisma.

“Kami sebelumnya mengangkat isu yang lebih berat. Hanya saja karena keterbatasan durasi, kemudian kami menyesuaikan lagi. Alhamdulillah, film kami menjadi film terbaik pertama dari enam kelompok lainnya,” ujarnya.

Bagi mahasiswa KPI, film dokumenter tidak hanya berfungsi sebagai produk akademik yang dinilai di ruang kelas. Melalui medium audio visual, pengalaman, pengetahuan, dan persoalan yang dihadapi masyarakat dapat disampaikan kepada khalayak yang lebih luas dengan cara yang lebih mudah dipahami.

DalamNapas Tanah Karisma, kamera tidak hanya merekam aktivitas pertanian. Ia juga merekam cerita tentang perempuan-perempuan desa yang berupaya menjaga kesuburan tanah di tengah tantangan pertanian modern. Apa yang selama ini berlangsung di ladang-ladang Kalibawang kemudian hadir di layar dan menjadi bahan percakapan publik.

Dampak tersebut dirasakan langsung oleh anggota Karisma. Salah satu narasumber dalam film, Herni Saraswati, mengaku tidak menyangka bahwa aktivitas yang selama ini mereka lakukan dapat dikemas menjadi sebuah dokumenter dan diperkenalkan kepada khalayak yang lebih luas.

“Kami mengucapkan terima kasih. Ternyata kami bisa berjejaring dengan perguruan tinggi. Dari proses pembuatan film yang memerlukan beberapa kali pertemuan, akhirnya dikemas dengan sangat baik. Semoga ini juga bisa menjadi alat promosi bagaimana merawat lingkungan dengan lestari,”ujarnya.

Senada dengan itu, Ketua Karisma, Misidah, menilai kehadiran film memberikan ruang baru bagi kelompoknya untuk menyampaikan gagasan tentang pertanian lestari kepada masyarakat yang lebih luas.

“Terima kasih sudah membantu kami menyebarkan pertanian lestari agar orang-orang di luar sana mengetahui apa yang kami kerjakan, apa yang kami inginkan, dan bagaimana manfaatnya untuk pertanian lestari,” ujarnya.

Dalam konteks tersebut, film dokumenter berfungsi lebih dari sekadar media informasi. Ia menjadi alat advokasi yang membantu mempertemukan pengetahuan lokal masyarakat dengan ruang publik yang lebih luas. Melalui film, pengalaman yang sebelumnya hanya hidup di lingkup komunitas dapat menjangkau mahasiswa, akademisi, hingga masyarakat umum.

MelaluiNapas Tanah Karisma, mahasiswa belajar bahwa komunikasi bukan hanya tentang menyampaikan pesan, melainkan juga tentang mendengarkan, merekam, dan menghadirkan suara kelompok-kelompok yang sering berada di pinggiran percakapan publik. Ketika kamera diarahkan ke ladang-ladang Kalibawang, yang terekam bukan hanya aktivitas pertanian, tetapi juga harapan agar kisah-kisah dari desa tetap hidup dan terus didengar.

Oleh : Agna Niha Azzahra