Jurnalisme Harus Bertanggung Jawab dan Memiliki Empati

KPI- Praktik kerja jurnalisme kini tak sekadar melakukan peliputan dan menyajikan berita. Seorang jurnalis bersama perusahaan media harus bertanggung jawab terhadap apa yang disajikan serta memiliki empati terhadap kepentingan masyarakat.

Hal itu disampaikan pengajar Solopos Institute, Adib Muttaqin Asfar dalam Pelatihan Jurnalisme Data dan Jurnalisme Bencana yang diselenggarakan Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Senin-Kamis (5-8/7). Menurutnya, kehadiran data dalam sebuah berita bukan sekadar pelengkap maupun pemanis visual. Lebih dari itu data dijadikan pijakan awal langkah kerja seorang jurnalis. Melalui data pula seorang jurnalis tidak menjadikan perkataan narasumber dalam sebuah wawancara sebagai satu-satunya sandaran utama.

“seorang jurnalis bisa mendapatkan data-data sebagai dasar berita melalui sejumlah lembaga. Misalnya kawalcovid19.id. Situs ini lahir untuk mengimbangi minimnya data dari pemerintah di awal pandemi. Di dalamnya menyediakan informasi data penduduk yang terpapar covid-19 di Indonesia. Untuk hal lain, data dari BPS (Badan Pusat Statistik-red) juga bisa digunakan,” katanya.

Dalam praktiknya, lanjut Adib, jurnalisme data kini terus berkembang dengan melibatkan teknologi tertentu sebagai pisau analisis dan publikasi karya. Dia menyebut beberapa laman berita nasional yang telah menggunakan teknologi tersebut. Seperti Tempo.co, Tirto.id, dan Lokadata yang sebelumnya bernama Beritagar. Beberapa media lokal dan regional juga mulai mempraktikkan, salah satunya Solopos.com.

“Salah satu esensi jurnalisme adalah disiplin verifikasi. Itu yang menjadi landasan hadirnya jurnalisme data. Peran jurnalis adalah menggali data dan menemukan persoalan di balik data tersebut untuk kepentingan hidup orang banyak. Disamping itu, dengan menggunakan data terbuka dan transparan, akan menambah kepercayaan publik terhadap media,” tandasnya.

Selain data, kemampuan yang harus ada dalam diri jurnalis adalah memiliki empati. Berbicara di forum yang sama, Ichwan Prasetyo menyebut empati jurnalis terhadap persoalan dan nasib masyarakat menjadi nomor wahid. Hal itu mutlak dilakukan, terlebih saat melakukan peliputan bencana. Pria yang juga pengajar Solopos di Institute itu menilai pengetahuan jurnalis terhadap karakteristik bencana berpengaruh besar terhadap cara dan hasil peliputan.

“Indonesia ini negeri yang rawan terjadi bencana. Termasuk saat ini, covid ini masuk kategori bencana. Yang utama, kita harus empati terhadap korban itu. Jangan memaksakan diri untuk meliput atau wawancara kepada korban bencana secara berlebih. Apalagi calon narasumber sudah menunjukkan penolakan,” paparnya.

Ichwan memberikan beberapa contoh buruk peliputan yang tidak berempati terhadap korban. Salah satunya melontarkan pertanyaan terkait perasaan korban sesaat setelah terjadi bencana. “bagaimana perasaan Anda? Adakah firasat sebelumnya? Wartawan semestinya memahami kondisi dan situasi. Jika demikian, narasumber itu akan menjadi korban untuk kedua kali. Pertama korban bencana, kedua korban dari sikap kita,” tandasnya.Dia tak ingin mahasiswa yang akan melakukan peliputan meniru perilaku buruk jurnalis tersebut.

Kepala Prodi KPI, Nanang Mizwar Hasyim mengatakan Pelatihan Jurnalisme Data dan Jurnalisme Bencana digelar dalam rangka memberikan bekal kepada mahasiswa KPI konsentrasi jurnalistik. Peserta diharapkan mampu mengimplementasikan jurnalisme data dalam peliputan bencana. “peserta wajib mengejawatahkan ilmu yang didapat selama pelatihan dalam sebuah karya jurnalistik. Setelah itu karya akan dipublikasikan dan dicetak dalam sebuah buku bekerjasama dengan Solopos Institute,” terang Nanang.

Sementara itu Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK), Marhumah mengapresiasi kegiatan yang diselenggarakan melalui zoom tersebut. Menurutnya inovasi kegiatan yang dilaksanakan KPI mampu meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam bidang jurnalistik. Lebih lanjut dia berpesan agar karya mahasiswa mampu mengejawantahkan nilai-nilai keislaman yang menjadi pondasi dasar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. “jadi tidak sekadar membuat tulisan tetapi juga membawa semangat keislaman. Kemudian juga membawa prinsip integrative interkonektif-nya UIN Sunan Kalijaga,” katanya. (.)