Kompost Adakan Pelatihan Podcast di PP Wahid Hasyim

KPI UIN SUKA Podcast (Kompost) bekerja sama dengan Asrama Al Fithroh Pondok Pesantren Wahid Hasyim menyelenggarakan pelatihan manajemen podcast, Sabtu (24/12). Acara yang diikuti oleh santri-santri tersebut dilangsungkan di pendopo Asrama Al Fithroh PP Wahid Hasyim.
Menurut Fetra Nur Hikmah, ketua asrama Al Fithroh, di era digital seperti saat ini, pelatihan seperti ini sangat diperlukan. Sebab, podcast ini bisa menjadi salah satu sarana untuksyiaragama. Ia berharap dengan diadakannya pelatihan ini bisa memberikan timbal balik untuk semua santrinya.
“Saya berharapfeedback-nya bukan hanya buat asrama, tapi juga buat masing-masing (santri).” Harapnya.
Agenda pelatihan ini dibagi menjadi dua sesi terpisah. Sesi pertama adalah penyampaian materi oleh divisi-divisi di Kompost. Dilanjutkan dengan sesi kedua berupa praktik pembuatan podcast.
Gandhi Muhammad, ketua Kompost, menjelaskan bahwa Kompost memiliki tiga divisi yang bertugas dalam melakukan produksi. Tiga divisi itu adalah divisi podcaster, kreatif, dan tim media dan promosi. Tim-tim itu bertugas untuk membuat sebuah program podcast mulai dari pra-produksi, produksi, hingga pasca-produksi.
“Meskipun kita lihat dalam podcast itu hanya dua orang yang terlibat (podcaster dan narasumber; red), padahal di belakang itu ada banyak orang yang terlibat.” Jelas Gandhi.
Kreatif program Aksara Kalijaga, Fatra Wahyu Rofi menjelaskan bahwa tim kreatif bertugas untuk melakukan penggalian ide dan menentukan konsep program. Konsep itu dapat ditentukan sesuai dengan segmentasi yang telah ditentukan sebelumnya.
Fatra menjelaskan bahwa penetuan segmentasi pasar itu juga merupakan tugas tim kreatif. “Hal itu (segmentasi) sangat berpengaruh terhadap narkah yang kita buat,” paparnya.
Dalam menetukan konsep, tim kreatif juga perlu melakukan brainstorming ide yang akan menjadi pembahasan dalam podcast. Setiap anggota tim kreatif akan melakukan riset terlebih dahulu terkait tema yang akan dibahas. Menurut Fatra, validitas informasi sangat diperlukan dalam tahap ini.
Selain divisi kreatif, divisi podcaster juga menjelaskan tugas kerjanya. Vebri Aldiansyah, podcaster kompost mengatakan bahwa meskipun podcaster hanya tampak bertugas mewawancarai, sejatinya menjadi podcaster itu tidak benar-benar mudah. Sebab, podcaster yang merupakan wajah dari sebuah podcast juga perlu paham konsep program yang disiapkan tim kreatif.
Podcaster dalam menjalankan tugasnya tidak hanya bertugas ketika produksi. Ia juga perlu melakukan riset dan membuat daftar pertanyaan bersama Tim Kreatif. Lalu, ketika produksi, podcaster memiliki tugas utama untuk bisa membawa narasumber dalam pembicaraan.
“Podcaster itu harus bisa berkomunikasi secara efektif agar audiens bisa paham dengan konsep yang akan kita sampaikan,” papar Ve, sapaan akrabnya.
Agar bisa menciptakan komunikasi yang efektif antara podcaster dengan narasumber, sambungnya, podcaster perlu membangunchemistrydengan narasumber sebelum program berlangsung. Misanya adalah dengan berbicara terlebih dahulu beberapa waktu sebelum produksi dimulai agar tidak grogi.
“Entah podcasternya yang grogi atau narasumbernya yang grogi,” jelasnya.
Divisi selanjutnya yang menjelaskan materi adalah divisi media dan promosi. Divisi ini dibagi ke dalam dua bagian, yaitu desain grafis dan multimedia. Promosi program yang dilakukan sebelum pelaksanaan program adalah salah satu tugas desain grafis. Selain itu, desain grafis juga bertugas untuk membuat thumbnail video yang akan diunggah.
Sedangkan tugas dari multimedia di Kompost saat ini, menurut Gandhi, sudah terbilang cukup gampang. Sebab, saat ini multimedia hanya bertugas untuk mengoperasikan alat, mengedit bagian yang perlu diedit, dan mengunggah hasil rekaman ke Youtube.
“Tapi ketika awal membentuk podcast, multimedia memiliki tugas berat seperti membuatbumper openingdanclosingpodcast.” Paparnya.
Dalam pelatihan itu, Gandhi juga memaparkan kendala-kendala yang biasa tim Kompost hadapi saat produksi podcast. Menurutnya, kendala yang biasa dihadapi podcaster umumnya adalah saat pehamaman materi. Terkadang, jika tenggat waktu sudah mepet, podcaster kesulitas untuk memahami materi, terutama materi yang susah.
Selain itu, Gandhi juga menjelaskan masalah umum yang biasa dihadapi oleh tim multimedia. Misalnya, alat yang tiba-tiba tidak berfungsi optimal saat hendak digunakan. Menurutnya, Kompost pernah mengalami hal itu dan harus membuat narasumber menunggu hingga 30 menit.
“hal-hal itu adalah yang harus kita pikirkan. Kita harus belajar dari pengalaman untuk mengatasi masalah tersebut.” Pungkasnya.
Setelah penyampaian materi oleh tim Kompost, acara dilanjutkan dengan praktik langsung pembuatan podcast. Dalam sesi ini, peserta dibagi menjadi dua kelompok yang lalu dibimbing oleh tim Kompost.