Kompas.com Solo, Ajak Mahasiswa/i KPI UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Menyelami Dunia Kerja

Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) berkolaborasi dengan HMPS Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menyelenggarakan kunjungan studi ke media Tribun News dan Kompas.com Solo, Jawa Tengah, Rabu (6/09). Kunjungan ini ditujukan untuk Mahasiswa/i Komunikasi dan Penyiaran Islam angkatan 2021 dengan total 90 mahasiswa/i. Kunjungan media ini bertujuan sebagai salah satu tujuan Program Studi KPI UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta mengajak untuk mengenali dengan dunia kerja ataupun wartawan media sekaligus ditujukan untuk konsentrasi jurnalistik juga penyiaran. Dan dalam kunjungannya, media Kompas.com menyajikan materi mengenai “Media Sustainability To Face The Challenges of Press Digitalization”.
Menurut Nanang Mizwar Hasyim, Kaprodi KPI, kunjungan media ini memiliki tujuan untuk kerja sama dalam kegiatan magang MBKM. Sesuai dengan profil lulusan masing-masing baik jurnalistik maupun penyiaran, selama satu semester yang kemudian dapat di konversikan menjadi 20 sks.“Jadi di semester enam nanti siapa tau ada program dari Tribun atau Kompas bisa melakukan MBKM” ujar Nanang. Selain itu banyak pesan bagi para mahasiswa/i khususnya KPI UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta untuk mempersiapkan bekal mental saat magang maupun kerja, dan menurut Ana Shofiana, di dunia kerja tidak peduli soal mental, dan kalian akan mulai melihat dunia kerja saat magang nantinya. Ahsan Huda Muwafiq, selaku ketua penyelenggara, menambahkan bahwa kunjungan media ini agar mahasiswa dapat mengetahui bagaimana industri media sebenarnya. selain itu bisa melihat antara teori – teori media yang dibahas diperkuliahan dengan praktiknya dilapangan. “Tadi juga ada kontradiksi kan disitu tentang berita hoax itu menjadi pertanyaan. Teori yang dibahas di kampus ,khususnya kode etik jurnalisme apakah sudah dilaksanakan di media atau belum”.
Kompas.com merupakan media online pertama dan sebelum berdirinya Detik.com, Detik sendiri lahir di tahun 1998, sedangkan Kompas.com tahun 1995. Pada 14 September besok Kompas.com berusia 28 Tahun. Pertama kali Kompas menggunakan Harian Kompas dan sebelum menjadi Kompas.com memiliki nama Kompas Online (KOL). Sekarang, persebaran kantor Kompas.com semakin melebar di penjuru Indonesia, pekerja nya pun tidak harus Work From Office (WFO), tetapi juga bisa dilakukan (WFE) Work From Anywhere atau bekerja dari manapun. Ana Shofiana mengungkapkan “saya kalo kerja juga sambil es..es.., sambil nongki di kafe itupun saya tetap sambil kerja”. Viewers di Kompas.com juga mencapai 300 juta/bulan, lalu untuk audiens Kompas.com sekitar 48% perempuan, dan 51,2% laki-laki, untuk umur audiens nya sendiri “usia 18-24 tahun itu pembaca paling banyak di Kompas.com atau dikenal Gen-Z ya biasanya, jadi kalian jangan lupa yaa, harus baca Kompas.com juga!!hehee…” ungkapnya kembali. Kompas.com juga menyediakan Kompas+ bagi kalian yang ingin membaca di platform online dan tidak terganggu iklan-iklan di layar kalian “kalo kalian pengen baca ga ada iklan, solusinya? Kompas+ oke…!” tutur Ana Shofiana dengan semangat dan humble di depan mahasiswa/i KPI UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Selain penjelasan materi, juga melibatkan kreativitas dan kritis bertanya dari mahasiswa/i KPI, ada sekitar 4-5 mahasiswa/i yang ikut andil pada sesi tanya jawab hingga mengkritisi fenomena media di sekitar. Salah satu contohnya adalah isu Publisher Rights yang akan dicetuskan oleh Kemenkominfo guna filtering konten di seluruh platform media, menurut Inggried Dwi “terkait ini masih menjadi perbincangan, tapi menurut saya hal ini menjadi bagus apabila memang fungsinya kelebihan muatan informasi, maka perlunya memilah berita atau informasi yang fakta itu juga penting, tapi juga tidak membatasi orang untuk menyebarkan informasi”. Ini menjadi salah satu aware bagi kita, anak muda, maupun mahasiswa ketika nantinya berkecimpung dalam dunia kerja terlebih lagi menjadi seorang wartawan khususnya, atau orang-orang yang memang terlibat di dalam media sosial maupun pemberitaan, “sesungguhnya wartawan itu memang harus turun ke lapangan…, mencari fakta-fakta, jadi engga semuanya itu soal katanya, semua orang juga bisa ngomong katanya” ungkap Ana Shofiana.
Istilah “Wartawan Amplop”, menjadi pembahasan unik sekaligus aware bagi yang ingin terjun ke dunia kerja terlebih lagi yang terjun di beberapa perusahaan media, seperti halnya wartawan di Kompas.com sangat dilarang untuk menerima imbalan apapun dari pihak narasumber maupun orang-orang sekitar, “saya sejak awal menegaskan di Kompas.com, HARAM!!! menerima imbalan dari siapapun” ungkap tegas Ana Shofiana. Bisa dibilang di zaman sekarang mencari pekerjaan yang tidak berkecimpung di dunia media hampir sulit atau bahkan semuanya sudah melibatkan media dalam pekerjaannya, bahkan semudah media sosial yang pasti semua memilikinya, akan ada celah untuk “cari cuan”, namun perlu juga tetap waspada “kita boleh menjadikan media sosial sebagai informasi, tapi jangan jadikan satu-satunya informasi, perlunya verifikasi itu lebih penting dibandingkan hanya sekadar tahu”, ungkap Inggried Dwi.
Inggried Dwi menegaskan kembali, bahwa soal transparansi informasi apapun itu penting, dan prinsip di Kompas.com juga lebih kepada kebutuhan publik, sehingga tidak acak-acak dalam menyajikan berita, di dalam dunia kerja juga sebaiknya tidak bermain-main dengan penggunaan media apapun, karena jejak digital kita akan menjadi pertanggungjawaban atas apa yang kita kerjakan. Dunia media juga tidak semena-mena ada, lalu di diamkan, namun juga perlu terus dibenahi atau di update mengikuti perjalanan zaman. “Multitasking itu ga harus, tapi Multiskill itu harus” ungkap Ana Shofiana.
Reporter :
Hadiyya Qurrata A’yyuun
Nanik Rahmawati